Minggu, 23 Juli 2017

MAKALAH PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA MODERN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Islam telah ada sejak zaman kenabian .sejak itu Islam terus berkembang hingga saat ini. Namun, perkembangan islam tidak semudah apa yang kita lihat,saat ini ,ajaran islam mengalami mundur hingga akhirnya berjaya hingga saat ini.

periode setelah  1800 masehi dikatakan sebagai  islam modern ,termasuk di dalamnya saat ini. Dimasa ini  banyak perkembangan  dalam  kehidupan islam, peliputi pendidikan, politik,perdagangan dan kebudayaan .dan seluruh perkembangan islam dirangkum dalam  sejarah  islam tersebut sejarah islam tersebut  terbagai menjadi 3 periode,yakni pertama disebut dengan periodeklasik(650-1250M).periode kedua  disebut periode pertengahan(1250-1800M).periode ke tiga adalah periode modern  (1800-sekarang). 


Periode pertama yakni periode klasik(650-1250M)islam mengalami masa keemasanatau masa kejayaan .dengan di buktikan adanya luasnya wilayah kekuasaan islam,adanya intergrasi antar wilayah islam  dan adanya puncak kemajuan islam di bidang ilmu dan sains .Namun sekitar tahun 1000-1250M  keutuhan umat islam di bidang politik pecah  ,kekuasaan khalifah menurun  akhirnta tahun1251M dapat dikuasai dan di hancur kan Hulagu Khan.

Period eke dua ,yakni periode pertengahan(1250-1800M).pada periode pertengahan  terbagi menjadi dua fase,pertama ,fase kemunduran(1250-1500M) zaman ini desentralisasikan dan disintegrasi semakin meningkat.Banyak wilayah yang memisahkan diri dari kekuasaan pusat. Kedua Fase 3 kerajaanbesar(1500-1800M). dimulai zaman kemajuan (1500-1700M) dengan tiga Negara ,yaitu kerajaan usmanidi Turkikerajaan syafawi di Persia, dan  kerajaan mughaldi india yang Berjaya di bidang literature dan arsitektur.

Periode ke tiga  yakni periode modern (1800m sekarang ). Periode ini di sebut juga periode pembaharuan  karena merupakan zaman kebangkitan dan kesadaran umat islam  terhadap kelemahan dirinya dan adanya untuk memperoleh kemajuan dalam berbagai bidang ,terutama dalam bidang pengetahuan danteknologi .pada bab ini kita   hanya akan terfokus membahas mengenai periode Modern(1800-sekarang).

B.     Rumusan Masalah
1.      Perkembangan islam pada masa modern
2.      Contoh perkembangan islam modern
3.      Perkembangan politik, ekonomi dan agama





BAB II
PEMBAHASAN


A.     perkembangan islam pada periode modern.


Dengan adanya penyimpangan-penyimpangan tersebut mendorong munculnya  para penggagas  dan pembaharu Muslim yang berusaha menyadarkan  terhadap penyimpangan penyimpangan yang telah di lakukan  agar kembali jalan yang di ridhoi  allah SWT. Tokoh-tokoh tersebut antara lain :

1. Muhammad bin Abdul Wahap
       Beliau lahir di Nejd(arab Saudi) pada tahun1115H(1703M) dan wafat di Daryah tahun 1201H(1787M) beliau seorang ulama besar yang froduktif terbukti  dengan karangan bukunta tentang islam .Diantaranya bukunya berjudul “kitab at tauhid “.

2. Rifa’ah Badawi Rafi At Tahtawi atau At Tahw
        Lahir di Tahta tahub1801.pemikirannya tentang ajaran islam adalah antara lain menyeru kepada umat islam agar hidup di dunia tidak hanya memikirkan kehidupan akhirat saja ,tetapi harus juga memikirkan kehidupan dunia ,agar umat islam tidak dijajah oleh bangsa lain

3.Jamaludin Al Afghani
        Lahir di Afganistan tahun 1839M. Wafat di istambul Turki tahun1897M.pembaharuan pemikiran yang di munculkan ,antara lain mengajak umat islam kembali  kepada ajaran yang murni ,mengajak  para  kaum wanita untuk biSa meraih kemajuan dan bekerja sama dengan kaum laki-laki ,kepemimpinan otokrasi di
rubah menjadiDemokrasi,Artinya islam menghendaki pemerintahan republic yang di dalam nya  terdapat kebebasan mengemukakan pendapat dan Negara wajib tunduk  kepada undang-undang ,dan Plan Islamisme  yaitu persatuan dan kesatuan umat islam harus ada karena hal tersebut di atas segalanya.

B. Contoh Perkembangan Islam Modern

1.Ilmu pengetahuan di india
         ide pembaharuan di india  dan Pakistan  pertamakali di cetuskan oleh  syekh Waliyulloh  pada abad ke 18 .kemudian di teruskan oleh anaknya  syekh Abdul Aziz (1746-1823)dan di kembangkan oleh syekh Waliyulloh dan Sayid Ahmad Syahid.
2.ilmu pengetahuan  di mesir 
         pembaharuan di mesir di ilhami dari pembaharuan yang dilakukan Sayid Jamaludin al Afghani di Turkisehingga muncul tokoh-tokoh  pembaharu di mesir seperti Muh.Abduh ,Muh.Rasyid Ridha ,Tooha Husein ,san  yusuf Al qardawi.
3.ilmu pengetahuan di turki  
           sultan Mahmud II dari kesultanan turki (1785-1839) mengadakan pembaharuan ,antara lain memasukan kurikulum  ilmu pengetahuan  ke dalam lembaga pendidikan islam ,mendirikan lembaga pendidikan “maktebi ma’arif”. Di samping itu ,sultan Mahmud IImendirikan perguruan-perguruan tinggi  di bidang kedokteran,militer,dan teknologi.
4.perkembangan di bidang budaya 
             kebudayaan adalah hasil cipta  dan karsa dari manusia untuk manusia itu sendiri dari masa ke masa  kebudayaan semakin berkembang . termasuk didalamnya  perkembangan budaya islam  yang meliputi arsitektur,sastra ,dan kaligrafi .
Masa moderen dalam sejarah islam di katagorikan bermula dari tahun 1800 M dan berlangsung pada masa sekarang yang di tandai dengan gerakan pembaruan dalam berbagai bidang. Saat islam mengalami kemunduran, bangsa Eropa justru mengalami kemajuan luar biasa dalam lapangan kebudayaan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi, Oleh karena itu, pada periode ini kondisi dunia islam berada di bawah pengaruh kolonialisme dan imperialisme Eropa tersebut.
Dalam perjalanan sejarah, baru pada pertengahan abad 20M, dunia islam bangkit memerdekakan negrinya dari penjajahan. Periode ini memang merupakan zaman kebangkitan kembali islam setelah mengalami kemundururan di periode pertengahan. Adapun inspirasi kebangkitan di mulai pada saat Napoleon Bonaparte menduduki Mesir di tahun 1798M. Meskipun penduduk tersebut tidak berlangsung lama, tetapi hal itu meninggalkan kesan yang mendalam pada diri umat islam tentang kemajuan Eropa dan ketertinggalan peradaban kaum muslim. Kesadaran ino lah yang kemudian berubah menjadi berubah menjadi sebuah upaya dan agenda besar umat islam di abad moderen ini guna melakukan pembaruan dan modernisasi.

C. Perkembangan Agama, Politik, Ekonomi
1. Perkembangan Agama
Masa moderen ini memberi landasan intelektual bagi pembaruan di berbagai bidang, termasuk dalam bidang Agama. Dalam istilah Arab, pembaruan di kenal dengan nama Tajdid. Adapun secara istilah, Tajdid di formulasikan sebagai upaya dan aktivitas untuk mengubah kehidupan umat islamdari keadaan yang sedang berlangsung kepada keadaan yang hendak di wujudkan demi upaya kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat, di kehendaki oleh islam. Kata pembaharuan islam mempunyai makna”modernisasi”, yaitu ajaran islam yang bersifat relatif dan terbuka untuk perubahan serta pembaruan.

Islam adalah agama yang memberi kebebasan kepa umatnya untuk mengekspresikan diri asalkan sesuai dengan kaidah ajaran islam Dan sejalan dengan tujuan penciptanya, yakni untuk beribadah kepada Allah SWT. Perjalanan sejarah umat islam telah membuktikan bahwa setiap saat ada umat yang senantiasa berposisi sebagai pemberi motivasi atau pembaru bagi masyarakat.

Salah satu pelopor pembaru dalam dunia islam Arab adalah satu aliran yang bernama Wahabiah yang sangat berpengaruh di abad ke-19. Pelopornyo adalah Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787M) yang berasal dari Nejed, Saudi Arabia. Pemikiran yang dikemukakan oleh Muhammad bin Abdul Wahab adalah upaya untuk memperbaiki kedudukan umat islam dan merupakan reaksi terhadap paham tauhid yang terdapat di kalangan umat islam saat itu. Paham tauhid mereka telah tercampur aduk oleh ajaran tarikan yang sejak abad ke-13 tersebar luas di dunia.

Di setiap negara islam yang dikunjunginya, Muhammad bin Abdul Wahab melihat makam syekh tarika yang bertebaran. Setiap kota, ke makam itu lah umat islam pergi dan meminta pertolongan dari syekh, syekeh atau wali yang telah meninggal dunia di pandang orang yang berkuasa. Perbuatan ini merupakan paham Wahabiah termasuk syirik karena permohonan tersebut  tidak di paham lagi dipanjatan kepada Allha SWT.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Muhammad bin Abdul Wahab memutuskan perhatiannya pada persoalan ini. Ia memiliki pokok pemikiran sebagai berikut.

  • Yang harus di sembah hanyalah Allah SWT. Dan orang yang menyembah selain dari-Nya telah diinyatakan musyrik.
  • Kebanyakan orang islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukann lagi kepada Allah, melainkan dari syekeh. Orang islam yang berperilaku demikian dinyatakan musyrik
  • Menyebut nama nabi,syekeh,atau malaikat  sebagai pengantar dalam doa juga dikatakan sebagai syirik.
  • Meminta syafaat selain kepada Allah adalah juga merupakan syirik
  • Benazar kepada selain dari Allah juga perbuatan syirik
  • Memperoleh pengetahuan selain Al Quran, hadis, dan kias merupakan ke kufuran
  • Tidak percaya kepada kada dan kadar Allah merupakan kekufuran
  • Menafsirkan Al Quran dengan takwil atau interpretasi bebas juga termasuk kekufuran.
Untuk mengembalikan kemurnian tauhid tersebut, makam-makam yang banyak dikunjungi dengan tujuan mencari syafaat, keberuntungan, dan lain-lain sehingga membawa kepada paham syirik. Pemikiran-pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang mempunyai pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaruan di abad ke-19 adalah sebagai berikut:
  • Hanya Al Qurandan hadis yang merupakan sumber asli ajaran-ajaran islam. Pendapat ulama bukanlah merupakan sumber.
  • Taklid kepada ulama tidak dibenarkan
  • Pintu ijtihad senantiasa terbuka dan tidak tertutup.
Muhammad bin Abdul Wahab merupakan pemimpin yang aktif berusaha mewujudkan pemikirannya. Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab juga di kembangkan di indonesia yang awalnya di bawa oleh haji asal minangkabau, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik.

2. Perkembangan Politik 
                                                      
Terdapat dua agenda pemburuan dalam masyarakat islam tentang perkembangan politik yaitu:

a. Persoalan Internasional Politik Islam

Jamaluddin AL Afgani merupakan tokoh utama penggagas internasionalisme. Islam secara politik. Menurut Al Afgani, umat islam harus menyatukan barisan dan kekuatannya dalam satu bentuk Pan-Islamisme. Halini menjadi sangat penting untuk membentengi diri umat Islam dari dominasi penjajahan Barat. Konsep nasionalisme, yang membuat umat islam terpecah-pecah dan terkotak-kotak dalam sekian banyak notion-state, tidak akan konduktif dan tidak dapat diharapkan untuk menghadapi dominasi Barat tersebut.

b. Persoalan Hubungan Agama dengan Konsep Negara dalam Islam

Respon umat islam terhadap masalah ini muncul dalam tiga bentuk, respon kalangan modermis, revivalis, dan sekularis. Menurut kalangan revivalis, bentuk negara islam harus di kembalikan ke dalam bentuk pengalaman awal sejarah umat islam . Menurut tokohnyo, Abul A’la Al Mududin, kedalutan tertinggi dalam islam adalah Tuhan,Oleh karena itu, Al Quran haruslah menjadi konstituti dasar suatu negara islam.

Bagi kalangan Modernis, Bentuk Negara islam di serahkan sepenuhnya kepada kebutuhan zamannya masing-masing, Yang terpenting adalah bahawa pengelolahan politiknya harus mempunyai landasan etik Islam yang kuat.

Yang paling kontrovesial adalah kalangan sekularis. Berawal dengan menjelaskan sifat kepemimpinan Nabi, Ali Abdurraziq sampai pada kesimpulan bahwa islam tidak mengatur masalah –masalah kenegaraan, tidak memerintahkan, dan juga tidak melarangnya. Hal ini tampak dalam kepemimpinan Nabi yang murni bersifat keagamaan. Muhammad dalam pandangan Ali Abdurraziq, menyerahkan sepenuhnya masalah kenegaraan kepada umat islam secara rasional dan berdasarkan pengalaman historisnya masing-masing untuk mengatur, mengelola, dan memformat negaranya.

3. Perkembangan Ekonomi

Perekonomian penduduk yang merupakan syarat utama bagi kelangsungan hidup dan hal ini disadari oleh Kerajaan Usmani sebagai negara yang mengalami awal masa pembaruan. Maka dalam hal perekonomian, Kerajaan Usmani melakukan hal-hal berikut:
  • Pada periode pertama, Usmani bertujuan menguasai beberapa jalur perdagangan dan beberapa sumner produktif.
  • Berbagai produk dari Irian, Teluk Persia, dan, Laut  Merah membantu dalam menjadikan Usmani sebagai pusat perdagangan yang makmur.
  • Beberapa rute haji mengantar warga dari berbagai wilayah Kerajaan Usmani ke Mekah dan Madinah. Mekah merupakan sebuah kota pusat perdagangan rempah-rempah, mutiara, lada, dan kopi.
  • Penyediaan sarana kendaraan haji di Damaskus, Koiro, dan Bagdad menjadi kegiatan bisnis yang penting.
  • Dalam rentangan abad 15 dan 16, Basrah menjadi pusat perdagangan terbesar di Anotolia serta berbagai dermaga terbesar dalam pertukaran barang –barang.
  • Kota Istambul di bangun dengan merekontruksi beberapa institusi publik seperti sekolah, rumah sakit, tempat pemandian umum, dan tempat pengapdian.
  • Pada abad 17 dan 18, berlangsung perubahan situasi yang sangat menonjol dalam sistem kerajaan Usmani, artinya terjadi pula pecahnya peperangan yang berkepanjangan antara petinggi pusat dan petinggi lokal untuk memperebutkan kekuasaan terhadap pendapatan atas pajak produksi penduduk.

D. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Beberapa tokoh yang terkenal dalam dunia ilmu pengetahuan atau pemikiran islam tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Jamaluddin Al Afgani (Iran Turki 9 Maret 1897)
Salah satu sumbangan terpenting di dunia islam diberikan oleh Sayid Jamaluddin Al Afgani. Gagasan mengilhami kaum muslim di turki, iran, mesir, dan india.

2. Muhammad Abduh (Mesir 1849-1905) dan Muhammad Rasyid Rida
Guru dan murid tersebut sempat mengunjungi beberapa negara Eropa dan terkesan dengan pengalaman mereka di sana. Rasyid Rida mendapat pendidikan islam tradisional dan mengguasai bangsa asing.

3. Toha Husein (Mesir Selatan 1889-1973)
Toha Husein adalah seorang sejarawan dan filsuf yang amat mendukung gagasan Muhammad Ali Pasya. Ia merupakan seseorang pendukung modernisme yang gigih.

4. Sayid Qutub (Mesir 1906-1966)dan Yusuf Al Qardawi
Al Qardawi menekankan perbedaan modernisasi dan pembaratan. Jika modernisasi yang dimaksud bukan berarti upaya pembaratan dan memiliki batasan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan modern serta peneratan teknologinya, maka Islam tidak menolaknya, bahkan mendukungnya.

5.  Sir Sayid Ahmad Khan (India 1817-1898)
Sir Sayid Ahmad Khan adalah pemikir yang menyerukan saintifikasi masyarakat muslim. Seprti halnya Al Afgani, ia menyerukan kaum muslim untuk meraih ilmu pengetahuan moderen. Akan tetapi, berbeda dengan Al afgani, ia melihat adanya kekuatan yang membebaskan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi moderen.

6. Sir Muhammad Iqbal (Punjab 1873-1938)
Generasi awal abad ke-2 adalah Sir Muhammad Iqbal yang merupakan salah seorang muslim pertama dfi anak benua india yang sempat mendalami pemikiran Barat moderen dan mempunyai latar belakang pendidikan yang bercorak tradisional intelektual islam.

E. Perkembangan Seni dan Budaya

Hal yang dapat di pelajari di berbagai negara islam atau negara yang berpenduduk mayoritas umat islam adalah:

1.   Arsitektur

Arsitektur ada yang berfungsi melayani keagamaan, seperti masjid, makam, madrasa dan adapula yang berfungsi melayani kepentingan sekunder, seperti istana, benteng, jalan-jalan raya, karava serai.Di bidang perhotelan telah di bangun hotel-hotel mewah bertaraf internasional antara lain :
Masjidil Haram artinya masjid yang di hormati atau dimuliakan. M asjid ini berbentuk empat persegi terletak di tengah-tengah kota mekah, Masjid ini merupakan masjid tertua di dunia.
Masjid Nabawi adalah Masjid yang megah dan indah serta sangat luas.Masjid Nabawi bertahmbah megah dan indah dengan adanya sepuluh buah manara yang menjulang tinggi, 95 buah pintu yang lebar dan indah, dan juga kubah masjid yang dapat terbuka dan tertutup.

Sekarang ini Tehera merupakan salah satu kota terbesar di Asia. Bangunan arsitektur peninggalan Dinasti Qatar yaitu:
  • Istana Niavarand, tempat kediaman Syah Muhammad Reza Pahlepi dan keluarganya
  • Pengkuburan Behesyyti Zahara, Pekuburan ini tempat dimakamkah puluhan ribu pahlawan Revolusi islam.
2. Sastra

Pada masa pembaharuan telah bermunculan para sastrawan yang berkarya sastranya bersifat islami di berbagai negara, misalnya
  • Seorang sastrawan dan pemikir besar, menjelang abad ke-20 telah lahir di Pskitan (1877-1938)yang bernama Muhammad Iqbal, ia telah mengungkapakan filsafat tentang puisi menggunakan bahasa Urdu dan Persi.
  • Mustafa Lutfi Al-Manfaluti (1876-1926) seorang sastrawan dan ulama Al Azhar
  • Dr. Muhammad Husain Haekal (1888-1956) pengarang yang telah menulis Hayatu Muhammmad
  • Jamil Sidiq Az-Zahawi (1863-1936)seorang perintis sajak moderen dan seorang penyair tua
  • Abdus Salam Al-Ujaili (Lahir 1918)Seorang sastrawan di Suriah dan juga seorang dokter medis
  • Aisyah Abdurrahman seorang dokter dalam sastra klasik
3.Kligrafi
Kata Kaligrafi berasal dari Bahasa Yunani: Kaligrafia atau kaligraphos. Kallos berarti indah gropho berarti tulisan.jadi kaligrafi berarti indah yang mempunyai nilai estetis.

Perhatian umat islam indonesia terhadap seni kaligrafi cukup bagus. Hal ini ini di tandai antara lain:
  • Diadakan pameran lukisan kaligrafi nasional
  • Di selengarakannya Mussabaqah khaaf indah Al-Quran dalam setiap MTQ.
F. Hikmah Perkembangan Islam pada Masa Moderen
·            Sejarah di kemukakan dalam Al Quran sebagai kisah atau peristiwa yang dialamiumatmanusia di masa lalu. 
·               Pelajaran yang dapat diambil dari sejarah dapat menjadi pilihan ketika  mengambil sikap.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Masa pembaharuan (Modern) bagi dunia islam adalah masa yang dimula dar tahun 1800M sampai sekarang. Masa pembaharuan ditandai dengan adanya kesadaran  umat islam terhadap kelemahan dirinya dan adanya dorongan untuk memperoleh kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada awal masa pembaharuan , kondisi islam secara politis berbeda di bawah penetrasi kolonialisme. Baru pada pertengahan abad ke-20 M dunia islam bangkit memerdekakan negaranya dari penjajahan bangsa barat (Eropa).

Diantara Negara-negara islam atau Negara-negara penduduk mayoritas umat islam, yang memerdekakan dirinya dar penjajahan seperti:
·       Indonesia, memperoleh kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1947.
·       Pakistan pada tanggal 15 Agustus 1947.
·       Mesir secara pormal memperoleh kemerdekaan dari Inggris tahun 1922 M. namun mesir baru merasa benar-benar merdeka pada tanggal 23 Juli 1952. yakni setelah jamal Abdul Nasir menjadi penguasa. Karena dapat menggulingkan raja Faruq yang dalam masa pemerintahannya pengaruh inggris sangat besar.
·       Irak merdeka secara pormal dari penjajah inggris tahun 1932M, tetapi sebenarnya baru benar-benar merdeka tahun 1958M,.
·       Syira dan Libanon merdeka dari penjajah prancis tahun 1946M.

MAKALAH ADAB MEMBACA AL-QURAN DAN BERDO'A



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Al-Quran adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril yang merupakan mukjizat terbesar sepanjang sejarah manusia. Bagi siapa saja yang membaca al-Quran sekalipun tidak memahami maknanya, terhitung sebagai ibadah dan mendapatkan ganjaran pahala yang sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam hadits Qudsi yang artinya diriwayatkan oleh Abu Said, Rasululloh SAW bersabda “Allah SWT berfirman: siapa-siapa yang disibukkan dari memohon kepada-Ku karena membaca al-Quran, maka Aku akan berikan dia sebaik-baik ganjaran orang yang bermohon. Kelebihan firman Allah dari semua perkataan adalah seperti kelebihan Allah dari semua makhluk-Nya.”
Dari Hadits di atas, jelas sekali bahwa al-Quran memiliki posisi yang sangat mulia sebagai sebaik-baik kitab suci dan sekaligus pedoman hidup bagi umat manusia. Karena kemulian al-Quran dan untuk mendapatkan ganjaran pahala yang besar.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah-masalah yang akan menjadi bahan dalam penulisan makalah. Rumusan masalahnya adalah “Bagaimana adab atau etika dalam membaca al-Quran?”
C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin penulis capai dalam pembahasan ini adalah dapat mengetahui adab atau etika dalam membaca al-Quran.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    ADAB MEMBACA AL-QURAN
Para Ulama bersepakat mengenai beberapa adab atau etika dalam membaca kitab al-Quran. Kesepakatan-kesepakatan para Ulama tersebut antara lain:
1.        Agar orang yang akan membaca al-Quran bersuci baik dari hadas kecil maupun besar, demikian juga harus suci dari najis baik badan, tempat atau pakaian yang dikenakan, karena al-Quran merupakan sebaik-baik bentuk zikir dan bermunajat kepada Allah Yang Maha Suci, mengharuskan seseorang untuk suci lahir batin.
2.        Agar membaca al-Quran di tempat yang suci dan bersih yang sesuai dengan kemuliaan al-Quran. Masjid merupakan tempat yang paling mulia dan utama sebagai tempat untuk membaca al-Quran.
3.        Mengenakan pakaian yang sopan, rapi dan bersih.
4.        Hendaknya seseorang yang membaca al-Quran agar menghadap ke arah kiblat, karena membaca al-Quran adalah ibadah yang semestinya dilaksanakan dengan menghadap kiblat.
5.        Bersihkan gigi dan mulut dengan siwak agar bersih dan wangi, karena mulut merupakan jalan keluarnya suara al-Quran.
6.        Ikhlaskan diri dalam membaca al-Quran semata-mata karena Allah, bukan karena harta, sanjungan manusia, cari pengaruh dan lain-lain.
7.        Agar menghadirkan pikiran dan perasaan sepenuhnya terhadap apa yang sedang dibaca, sebab dia sedang berhadapan dan munajat kepada Allah SWT ketika membaca al-Quran.
8.        Menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak ada hubungannya dengan membaca al-Quran, seperti tertawa atau berbicara hal-hal lain seperti dalam keadaan darurat.
9.        Menghidari melihat hal-hal yang dapat menyimpangkan pikiran atau perasaan dari al-Quran yang sedang dibaca.
10.    Agar membaca al-Quran dengan tenang, khusuk, dengan sikap yang sopan dan jauh dari cara-cara yang tidak sesuai dengan kemuliaan al-Quran.
11.    Mengawali bacaannya dengan membaca istiadzah.
12.    Mengawali dengan bacaan basmalah kecuali surat al-Bar’ah.
13.    Membacanya denga tartil.
Maulana Muhammad Zakariyya al Kandahlawi menyatakan bahwa adab sebelum membaca al-Quran yakni, setelah bersiwak dan berwudhu, hendaknya duduk di tempat yang sepi dengan penuh hormat dan kerendahan sambil menghadap kiblat. Kemudian dengan menghadirkan hati dan khusu’, kita membaca al-Quran dengan perasaan seperti kita sedang mendengarkan bacaan al-Quran langsung dari Allah SWT. Jika kita mengerti maknanya, sebaiknya kita membacanya dengan penuh tadabbur dan tafakkur (merenungkan dan memikirkan maknanya).
Apabila menemui ayat-ayat tentang rahmat, hendaknya berdoa dan mengharap ampunan serta rahmat-Nya. Apabila menjumpai ayat-ayat tentang adzab dan ancaman Allah, hendaknya kita meminta perlindungan kepada-Nya, karena tidak ada penolong selain Allah SWT. Apabila kita menemukan ayat tentang kebesaran dan kemuliaan Allah SWT, maka ucapkanlah subahanallah. Apabila kita tidak menangis ketika membaca al-Quran, hendaknya kita berpura-pura menangis,Seandainya tidak bermaksud menghafal al-Quran, maka jangan membacanya terlalu cepat. Hendaknya kita letakkan al-Quran di atas bangku, bantal, atau di tempat yang agak tinggi. Pada waktu membaca al-Quran, kita tidak boleh berbicara dengan siapapun. Apabila ada keperluan berbicara ketika kita membaca al-Quran, maka kita harus menutupnya terlebih dahulu. Selesai berbicara, kita awali dengan membaca ta’awudz. Jika orang-orang di sekeliling kita sedang sibuk, sebaiknya kita membaca al-Quran dengan suara pelan. Apabila tidak, lebih baik membaca dengan suara keras.
Para ulama telah menulis ada enam adab lahiriyah dan enam adab batiniyah dalam membaca al-Quran.
1.      Adab Lahiriyah
a.       Membacanya dengan penuh rasa hormat, ada wudhu, dan duduk menghadap kiblat.
b.      Tidak membacanya terlalu cepat, tetapi dibaca dengan tajwid dan tarti.
c.       Berusaha menangis, walaupun terpaksa berpura-pura menangis.
d.      Memenuhi hak ayat-ayat adzab dan rahmat sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya.
e.       Jika dikhawatirkan akan menimbulkan riya’ atau menggangu orang lain, sebaiknya membacanya dengan suara pelan. Jika tidak, sebaiknya membaca dengan suara keras.
f.       Bacalah dengan suara yang merdu, karena banya hadits yang menerangkan supaya kita membaca al-Quran dengan suara yang merdu.
2.      Adab Batiniyah
a.       mengagungkan al-Quran di dalam hati sebagai kalam yang tertinggi.
b.      memasukkan keagungan Allah SWT dan kebesaranNya karena al-Quran adalah kalamNya.
c.       menjauhkan rasa bimbang dan ragu dari hati kita.
d.      membacanya dengan merenungkan makna setiap ayat dengan penuh kenikmatan.
e.       telinga benar-benar ditawajuhkan seolah-olah Allah sendiri sedang berbicara dengan kita dan kita sedang mendengarkannya.
Allah berfirman “Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (al A'raaf: 204)
1.      Membersihkan mulut dengan bersiwak sebelum membaca al-Quran.
2.      Membaca al-Quran di tempat yang bersih seperti masjid, dan sebagainya.
3.      Menghadap kiblat.
4.      Membaca ta'awudz (A'udzu billahi minas-syaithonirrajiim) ketika mulai membaca al-Quran.
5.      Firman Allah Ta'ala: (Apabila engkau membaca al-Quran maka mohonlah perlindungan Allah dari godaan setan yang terkutuk)
6.      Membaca basmalah (Bismillahirrahmaanirrahiim) di permulaan tiap surat kecuali surat at Taubah.
7.      Khusu' dan teliti pada setiap ayat yang dibaca.
8.      Firman Allah Ta'ala: (Apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran
ataukah hati mereka terkunci) (
Surat Muhammad: ayat 24)
9.      Firman Allah Ta'ala: (Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan
kepadamu penuh dengan keberkahan supaya mereka memerhatikan
ayat-ayat-Nya ....) (
Surat Shaad: ayat 29)
10.  Memperindah, melagukan dan memerdukan suara dalam membaca al-Quran.
Pendapat para ulama tentang mengeraskan suara ketika membaca al-Quran. Ada beberapa hadits yang memerintahkan untuk mengeraskan suara ketika membaca al-Quran dan ada hadits yang memerintahkan untuk membaca dengan lirih. Diantaranya adalah hadis shahih Bukhori Muslim “Allah tidak mengizinkan untuk suatu hal seperti Dia mengizinkan kepada seorang nabi yang bagus suaranya untuk menyanyikan al-Quran dengan suara keras”. Sedangkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmidzi dan Nasa’I “orang yang membaca al-Quran dengan keras seperti orang yang terang-terangan dalam bersedekah, dan orang yang membaca al-Quran dengan lirih seperti orang yang merahasiakan sedekah”.
An-Nawawi berkata “Pengumpulan dari dua hadits ini adalah membaca al-Quran lebih lirih adalah lebih baik, jika ditakutkan adanya riya’ atau sombong. Membaca dengan sura keras adalah lebih baik pada waktu tertentu. Karena perbuatan untuk mengeraskan memperbanyak amal, karena faidahnya akan melimpah pada para pendengar, membangunkan hati pembaca itu sendiri, menghilangkan rasa kantu dan menambah semangat. Pengumpulan seperti ini dikuatkan oleh hadits Abu Daud dengan sanad yang sahih dari Abu Said, Rasulullah SAW beriktikaf di dalam masjid maka beliau mendengar para sahabat membaca al-Quran dengan keras, maka beliau membuka takbir dan berkata “Ingatlah kalian bahwa semua ini sedsang bermunajad kepada Tuhan kalian. Maka janganlah kalian saling mengganggu dan janganlah saling meninggikan suara untuk membaca.” Sebagian dari mereka berkata disunahkan untuk membaca dengan keras pada suatu waktu dan membaca dengan lirih di waktu yang lain.
Perbandingan antara membaca dari mushaf dan dari hafalan. Membaca dari mushaf itu adalah lebih baik daripada membaca dari hafalan karena dari melihat dari mushaf itu adalah ibadah yang diperintahkan. An Nawawi berkata “Demikianlah yang dikatakan oleh sahabat-sahabat kami dan para ulama salaf dan aku tidak melihat adanya perbedaan pendapat.” Dia berkata jika dikatakan bahwa hal itu berbeda-berbeda dari orang yang satu dan yang lainnya maka dipilihlah membaca dari mushaf jika seorang itu bisa khusuk dan merenungkannya pada saat dia membaca dari mushaf dan dari hafalannya.
Perselisihan ulama tentang lebih utama membaca sedikit dengan tertil atau membaca dengan cepat dan banyak. Telah berbuat baik sebagian dari imam kita mereka berkata: sesungguhnya membaca al-Quran dengan tartil itu pahalanya lebih banyak, pahala dan banyak itu lebih banyak jumlahnya karena dalam setiap huruf itu terkandung sepuluh kebaikan. Di dalam Burhad az Zarkasi: “Kesempurnaan tartil adalah dengan membaca tafhim pada lafadz-lafadznya dan membaca jelas huruf-hurufnya agar setiap huruf tidak dimasukkan kedalam huruf yang lainnya.”
Hal-hal yang dimakruhkan dan tidak diperbolehkan ketika membaca al-Quran antara lain:
1.        Tidak boleh membaca al-Quran dengan bahasa ‘ajam (selain bahasa Arab) secara mutlak baik dia mampu berbahasa Arab atau tidak, baik di waktu sholat atau di luar sholat.
2.        Tidak diperbolehkan membaca al-Quran dengan qiro’ah yang syad. Ibnu Abdil Barr meriwayatkan ijma’ tentang hai itu tetapi Mauhub al-Jazari membolehkan pada selain shalat, mengkiaskan riwayat hadits dengan makna.
3.        Dimakruhkan untuk menjadikan al-Quran itu sumber rizki (ma’isyah) al-Ajuzi meriwayatkan sebuah hadits dari Imron bin Husain secara marfu’ “barang siapa membaca al-Quran maka hendaklah dia minta kepada Allah dengannya. Sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca al-Quran dan meminta kepada manusia dengannya.
4.        Dimakruhkan untuk mengatakan “aku lupa ayat ini” tetapi aku dilupakan tentang ayat ini” karena ada hadits dari Bukhari Muslim yang melarang tentang hal itu.
B. ADAB BERDO’A
Para Ulama menjelaskan tentang adab dan etika dalam berdoa agar dikabulkan, sebagaimana tuntutan dalam al-Qur‘ân dan Hadis.
Al-Baghawi rahimahullah berkata: “Ada etika dan syarat-syarat dalam berdoa yang merupakan sebab dikabulkannya doa. Barangsiapa memenuhinya, maka dia akan mendapatkan apa yang diminta dan barangsiapa mengabaikannya, dialah orang yang melampaui batas dalam berdoa; sehingga doanya tidak berhak dikabulkan”.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata “Kedua ayat berikut mencakup adab-adab berdoa dengan kedua jenisnya (doa ibadah dan doa permohonan);
Iaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
” Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [al-A‘raf/7:55-56] Dan Ibnu Katsîr rahimahullah membawakan sejumlah hadits-hadits yang berkaitan dengan adab-adab tersebut iaitu:
1. Mengangkat kedua tangan sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Salmân al-Fârisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَالَ إِنَّ اللّهَ حَيِيٌ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha pemalu lagi Maha pemurah terhadap seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya (berdoa), kemudian kedua tangannya kembali dengan kosong dan kehampaan (tidak dikabulkan).”
2. Memulakan doa dengan pujian terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Salawat dan Salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tawasul yang disyariatkan, seperti dengan bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan asma’ dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan amal shalih dan selainnya.
3. Bersangka baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diriwayatkan dalam sebuah hadis qudsi dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
يَقُولُ اللَّه عَزَّوَجَلَّ : يَقُولُ أَنَّا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِيْ وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِيْ
” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku (akan) sebagaimana hamba-Ku menyangka tentang-Ku, dan Aku akan bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku”
al-Qurthûbi rahimahullah berkata: ” maknanya adalah hamba itu menyangka dikabulkannya doa, diterimanya taubat, diberikan ampun melalui istighfâr, serta menyangka dibalas dengan pahala atas ibadah yang dilakukan sesuai syarat-syaratnya sebagai keyakinan akan kebenaran janji Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Menjauhi sikap tergesa-gesa mengharapkan terkabulnya doa; karena ketergesa-gesaan itu akan berakhir dengan sikap putus asa sehingga ia tidak lagi berdoa. Na‘ûdzubillâh.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُسْتَجَابُ لأَِحَدِكُم مَالَم يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَم يُتَجَبْ لِي
” Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahawa Rasulullah bersabda “ Akan dikabulkan (doa) seseorang di antara kalian selama dia tidak tergesa-gesa, iaitu dia berkata ‘aku telah berdoa namun belum dikabulkan bagiku’ “.
Dalam lafaz lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَالَ لاَيَزَالُ يُستَجَابُ لِلعَبْدِ مَا لَم ْيَدْع ُبِإِثْم أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَالَمْ يَسْتَعْجِل قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الاِستِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَم أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ
” Sentiasa akan dikabulkan (doa) seorang hamba selama tidak meminta sesuatu yang membawa dosa atau memutuskan tali kekeluargaan, selama dia tidak tergesa-gesa. Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah , apa yang dimaksud tergesa-gesa?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dia berkata ‘aku telah berdoa, aku telah berdoa namun aku tidak pernah mendapatkan doaku dikabulkan’, kemudian ia berputus asa dan meninggalkan berdoa
5. Membersihkan jiwa raga dari berbagai kotoran dosa. Hati yang kotor dengan berbagai maksiat atau jiwa yang tidak bersih dari perkara haram akan menghalang terkabulnya doa.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيًّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَِ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّيسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَاأَيُّهَاالذِنيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَا كُمْ ثُمَّ دَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَارَبِّ يَارَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمََِشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامٌ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
” Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dan tidak menerima melainkan yang baik. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Mukminin dengan apa yang telah diperintahkannya kepada para rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai para rasul makanlah kalian dari yang baik dan beramal solehlah, sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Para Ulama bersepakat mengenai beberapa adab atau etika dalam membaca kitab al-Quran. Di dalam al-Quran surat al A'raaf ayat 204, Allah berfirman “… dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” Jadi, ketika membaca al-Quran harus dengan adab agar mendatangkan rahmat dari Allah. Adab-adab yang dimaksudkan antara lain:
1.      Membersihkan mulut dengan bersiwak sebelum membaca al-Quran;
2.      Membaca al-Quran di tempat yang bersih seperti masjid, dan sebagainya;
3.      Menghadap kiblat;
4.      Membaca ta'awudz (A'udzu billahi minas-syaithonirrajiim) ketika mulai;
5.      Membaca basmalah (Bismillahirrahmaanirrahiim) di permulaan tiap surat kecuali surat at Taubah;
6.      Khusu' dan teliti pada setiap ayat yang dibaca;
7.      Memperindah, melagukan dan memerdukan suara dalam membaca al-Quran;
8.      Pelan dan tidak tergesa-gesa dalam membaca al-Quran;

Ada etika dan syarat-syarat dalam berdoa yang merupakan sebab dikabulkannya doa. Barangsiapa memenuhinya, maka dia akan mendapatkan apa yang diminta dan barangsiapa mengabaikannya, dialah orang yang melampaui batas dalam berdoa; sehingga doanya tidak berhak dikabulkan

MAKALAH KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA

KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA  BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia memiliki sejarah yang panjang mengenai kerajaan-ker...