Selasa, 03 Februari 2015

UPACARA ADAT TRADISIONAL DI SULAWESI SELATAN



UPACARA ADAT DI SULAWESI SELATAN
1.      RAMBU TUKA















Pesona alam Tana Toraja memang terkenal sangat indah dan asri, sehingga dijuluki objek wisata primadona, untuk di Sulawesi Selatan dan Indonesia bagian Timur. Julukan ini pantas karena Tana Toraja sejak tahun 1960 telah dikenal oleh para tourist dari berbagai mancanegara. Selain keindahan panorama alamnya yang indah dan udara yang sejuk, Tana Toraja juga memiliki kesenian dan kerajinan tangan yang unik dan bernilai seni yang tinggi, keramahtamahan penduduk dan kaya dengan tradisi budaya yang unik dan menarik, seperti acara adat Rambu Solo, Rambu Tuka, dan salah satu ritual yang termasuk langka di Tana Toraja yaitu Ma’Nene’, yaitu sebuah tradisi kegiatan ritual yang dilaksanakan untuk mewujudkan rasa cinta kasih mereka kepada leluhurnya yang sudah meninggal, dengan cara berkunjung ke pemakaman untuk membuka kembali peti-peti mati leluhur mereka untuk mengganti sarung atau pakaian serta menjemur mayat-mayat leluhur mereka.
Sejumlah warga menari Ma' Dondo menjelang prosesi Mangarara Banua di Desa Kadundung, Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Kamis (21/8). Mangarara Banua merupakan salah satu prosesi Rambu Tuka' yang berupa upacara syukur pasca penggantian atap rumah adat Tongkonan. Sedangkan pada acara adat Rambu Tuka' yaitu acara yang berhubungan dengan acara syukuran misalnya acara pernikahan, syukuran panen dan peresmian rumah adat/tongkonan yang baru, atau yang baru selesai direnovasi. Acara ini menghadirkan semua rumpun keluarga, dari acara ini membuat ikatan kekeluargaan di Tana Toraja sangat kuat semua. Upacara ini terkenal dengan nama Ma’Bua;, Meroek atau Mangrara Banua Sura’. Tanah Toraja yang terletak sekitar 350 km sebelah Utara Makassar memang memiliki sebuah bangunan atau rumah adat yang sangat terkenal dengan ke-khasan bentuknya, yang bernama Tongkonan. Atapnya terbuat dari daun nipa atau kelapa dan mampu bertahan sampai 50 tahun. Tongkonan ini juga memiliki strata sesuai dengan derajat kebangsawanan masyarakat seperti strata emas, perunggu, besi dan kuningan.


Sejumlah warga menari Ma' Dondo menjelang prosesi Mangarara Banua di Desa Kadundung, Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Kamis (21/8). Mangarara Banua merupakan salah satu prosesi Rambu Tuka' yang berupa upacara syukur pasca penggantian atap rumah adat Tongkonan. Untuk upacara adat adat Rambu Tuka' ini diikuti oleh seni tari : Pa' Gellu, Pa' Boneballa, Gellu Tungga', Ondo Samalele, Pa'Dao Bulan, Pa'Burake, Memanna, Maluya, Pa'Tirra', Panimbong dan lain-lain. Untuk seni musik yaitu Pa'pompang, pa'Barrung, Pa'pelle'. Musik dan seni tari yang ditampilkan pada upacara Rambu Solo' tidak boleh (tabu) ditampilkan pada acara adat ini.

1.      ACCERA KALOMPONG


Accera Kalompoang merupakan upacara adat untuk membersihkan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Gowa yang tersimpan di Museum Balla Lompoa. Inti dari upacara ini adalah allangiri kalompoang, yaitu pembersihan dan  penimbangan salokoa (mahkota) yang dibuat pada abad ke-14. Mahkota ini  pertama kali dipakai oleh Raja Gowa, I Tumanurunga, yang kemudian disimbolkan  dalam pelantikan Raja- Raja Gowa berikutnya. Adapun benda-benda kerajaan yang dibersihkan di  antaranya: tombak rotan berambut ekor kuda (panyanggaya barangan), parang  besi tua (lasippo), keris emas yang memakai permata (tatarapang), senjata  sakti sebagai atribut raja yang berkuasa (sudanga), gelang emas berkepala naga (ponto janga-jangaya), kalung kebesaran (kolara), anting-anting emas murni (bangkarak ta‘roe), dan kancing emas (kancing gaukang).  Selain benda-benda pusaka tersebut, juga ada beberapa benda impor yang tersimpan  di Museum Balla Lompoa turut dibersihkan, seperti: kalung dari Kerajaan Zulu,  Filipina, pada abad XVI; tiga tombak emas; parang panjang (berang manurung);  penning emas murni pemberian Kerajaan Inggris pada tahun 1814 M.; dan medali  emas pemberian Belanda.
Pencucian benda-benda kerajaan tersebut menggunakan air suci yang diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah secara bersama-sama oleh para peserta upacara yang dipimpin  oleh seorang Anrong Gurua (Guru Besar). Khusus untuk senjata-senjata pusaka seperti keris, parang dan mata tombak, pencuciannya diperlakukan secara khusus,  yakni digosok dengan minyak wangi, rautan bambu, dan jeruk nipis. Pelaksanaan  upacara ini tidak hanya disaksikan oleh para keturunan Raja-Raja Gowa, tetapi  juga oleh masyarakat umum dengan syarat harus berpakaian adat Makassar pada saat acara.
Upacara adat yang sakral ini pertama kali dilaksanakan  oleh Raja Gowa yang pertama kali memeluk Islam, yakni I Mangngarrangi Daeng  Mangrabbia Karaeng Lakiung Sultan Alauddin pada tanggal 9 Jumadil Awal 1051 H.  atau 20 September 1605. Meskipun Raja Gowa XIV itu telah memulainya, namun  upacara ini belum dijadikan sebagai tradisi. Raja Gowa XV, I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng Lakiung Sultan Malikussaid Tumenanga Ri  Papambatuna, mentradisikan upacara ini pada setiap tanggal 10 Zulhijjah, yakni  setiap selesai shalat Idul Adha. Selanjutnya, Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng  Mattawang Karaeng Bontomanggape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla Pangkana yang  bergelar Ayam Jantan dari timur, memasukkan unsur-unsur Islam ke dalam upacara ini, yakni penyembelihan hewan kurban.



2.      MAPPALILI


Mappalili adalah upacara mengawali musim tanam padi di sawah. Ritual ini dijalankan oleh para pendeta Bugis Kuno yang dikenal dengan sebutan bissu. Selain di Pangkep, komunitas bissu ada di Bone, Soppeng, dan Wajo. Ritual dipimpin langsung Seorang Bissu Puang Matoa.

Puang Matoa terlihat begitu berwibawa di antara bissu yang berkumpul di rumah arajang, yakni tempat pusaka berupa bajak sawah disemayamkan. Mengenakan kemeja bergaris dengan warna dominan putih, dipadu sarung putih polos dan songkok. Suara santun dan tegas selalu keluar dari mulutnya. Tak ada teriakan sedikit pun. Sebagai pengganti teriakannya, Puang Matoa menggunakan katto-katto, sejenis pentungan yang khusus untuk memanggil anak laki-laki, dan kalung-kalung, nama alat untuk memanggil anak perempuan.
Cukup memukul katto-katto tiga kali dan memberi kode. Meski hanya memanfaatkan pelita, para bissu tetap mempersiapkan perlengkapan ritual. Saidi, misalnya, membentuk simbol-simbol di atas daun sirih menggunakan beras empat warna : masing-masing hitam simbol tanah, merah simbol api, kuning simbol angin, dan putih simbol air. Ahmad Sompo, 43 tahun, Bissu Salassa Mangaji, terlihat membuat pelita dari buah kemiri dan kapas yang dibalutkan pada potongan bamboo. Setelah semua persiapan rampung, upacara pun digelar esok hari.
Mappalili dimulai dengan upacara membangunkan arajang. “Teddu’ka denra maningo. Gonjengnga’ denra mallettung. Mallettungnge ri Ale Luwu. Maningo ri Watang Mpare. (Kubangunkan Dewa yang tidur. Kuguncang Dewa yang terbaring. Yang berbaring di Luwu. Yang tertidur di Watampare),” kata Puang Matoa, melagukan nyanyian untuk membangunkan arajang.

Nyanyian Puang Matoa kemudian disambung suara semua bissu yang terlibat dalam upacara Mappalili. “Tokkoko matule-tule. Matule-tule tinaju. Musisae-sae kenneng. Masilanre-lanre kenning. Musinoreng musiotereng. Musiassaro lellangeng. Mupakalepu lolangeng. Lolangeng mucokkongngie. Lipu muranrusie. (Bangkitlah dan muncul. Tampakkan wajah berseri. Menari-nari bersama kami. Bersama turun, bersama bangun. Bersama saling mengunjungi. Menyatukan tujuan. Negeri yang engkau tempati. Tanah tumpah darahmu).”
Nyanyian membangunkan arajang ada 10 lagu. Secara berurutan, Puang Matoa menyanyikannya, setiap tembangnya diikuti sembilan bissu yang terlibat dalam upacara. Bagian acara ini disebut matteddu arajang atau membangunkan pusaka berupa bajak sawah. Konon, bajak ini ditemukan secara gaib melalui mimpi. Puang Matoa mengatakan bajak dari kayu ini sudah ada sejak tahun 1330. Arajang tiap-tiap daerah ini berbeda. Di Pangkep berupa bajak sawah. Di Soppeng berupa sepasang ponto atau gelang berkepala naga yang terbuat dari emas murni. Sedangkan Bone dan Wajo, arajang-nya berupa keris.
3.      TUDUNG ADE
Upacara Tukang Ade berarti upacara duduk secara adat dengan anggota 110 orang. Maksud pengadaan upacara ini adalah: A. Memusyawarakan hal-hal pentingnya menyangkut pemerintahan atau permasalahan yang dihadapkan kerajaan untuk mencapai kesepakatan dan mufakat. Hal ini menunjukan bahwa Raja Bone bukan seorang monarki absolut melainkan praktisi demokrasi, karena Raja senantiasa melibatkan seluruh Dewan Kerajaan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kerajaan dan kepentingan rakyat. Upacara ini juga menunjukan bahwa Raja Bone adalah seorang Raja yang murah hati dan ramah terhadap bawahan, berkenan menjamu mereka dengan makanan ringan khas kerajaan, serta mau menerima mereka secara adat B. Apabila kerajaan kedatangan tamu resmi dari kerajaan lain dan dianggap layak untuk diterima secara adat.



4.      UPACARA ADAT MA’NENE


Salah satu keunikan budaya di tanah Toraja, Sulawesi Selatan yakni adanya upacara adat mengganti pakaian mayat para leluhurnya. Upacara ini dikenal dengan nama, Ma'nene.

Dibilang unik dan khas, mengingat ritual Ma'nene dilakukan khusus oleh masyarakat Baruppu, di pedalaman Toraja Utara. Ritual Ma'nene dilakukan setiap 3 tahun sekali dan biasanya dilakukan pada bulan Agustus.
Mengapa pada bulan tersebut? Karena upacara Ma'nene hanya boleh dilaksanakan setelah panen. Musim panen yakni jatuh pada bulan Agustus.
Masyarakat adat Toraja percaya jika ritual Ma'nene tidak dilakukan sebelum masa panen, maka akan sawah-sawah dan ladang mereka akan mengalami kerusakan dengan banyaknya tikus dan ulat yang datang tiba-tiba.
Sejarah ritual Ma'nene ini berawal dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek, yang datang ke hutan pegunungan Balla. Saat itu, Pong menemukan sebuah jasad manusia yang telah meninggal dunia dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Oleh Pong, jasad itu dibawanya dan dikenakan pakaian yang layak untuk dikuburkan di tempat aman.
Semenjak dari itu, Pong berturut-turut mendapatkan berkah. Tanaman pertanian miliknya panen lebih cepat dari waktu biasanya. Saat dia berburu pun, Pong kerap kali mendapatkan perburuannya dengan mudah. Dan saat berburu di hutan, Pong sering bertemu dengan arwah yang dirawatnya yang kemudian arwah tersebut ikut membantu dalam perburuan Pong sebagai petunjuk jalannya.
Dengan adanya peristiwa tersebut, Pong beranggapan bahwa jasad orang yang telah meninggal sekalipun harus tetap harus dirawat dan dihormati, meskipun jasad tersebut sudah tidak berbentuk lagi.
Pong lalu mewariskan amanahnya kepada penduduk Baruppu. Dan oleh penduduk Baruppu, amanah Pong tetap terjaga dengan terus dilaksanakannya ritual Ma'nene tersebut.

Prosesi Ma'nene itu sendiri diawali dengan mengunjungi lokasi tempat dimakamkan para leluhur masyarakat setempat yakni di pekuburan Patane di Lembang Paton, Kecamatan Sariale, ibu kota Kabupaten Toraja Utara. Para mayat leluhur mereka disimpan di dalam peti yang telah diberi pengawet.

Sebelum dibuka dan di angkat dari peti, para tetua yang biasa dikenal dengan nama Ne' Tomina Lumba, membacakan doa dalam bahasa Toraja Kuno. Setelah itu, mayat tersebut diangkat dan mulai dibersihkan dari atas kepala hingga ujung kaki dengan menggunakan kuas atau kain bersih. Setelah itu, barulah mayat tersebut dipakaikan baju yang baru dan kemudian kembali dibaringkan di dalam peti tadi.
Selama prosesi tersebut, sebagian kaum lelaki membentuk lingkaran menyanyikan lagu dan tarian yang melambangkan kesedihan. Lagu dan gerak tarian tersebut guna untuk menyemangati para keluarga yang ditinggalkan.

UPACARA ADAT TRADISIONAL DI KALIMANTAN TENGAH



UPACARA TRADISIONAL KALIMATAN TENGAH

Provinsi Kalimantan Tengah merupakan daerah yang memiliki aneka ragam tradisi yang berasal dari budaya Suku Dayak. Suku Dayak Kalimantan Tengah yang kemudian terbagi atas berbagai sub suku seperti Dayak Ngaju, Dayak Ot Danum, Dayak Ma'anyan, Dayak Lawangan,Dayak Taboyan, Dayak Siang dan sub Suku Dayak lainnya memiliki keunikan aneka tradisi tersendiri.

Tradisi berupa upacara ritual tersebut secara umum dibagi menjadi dua bagian yaitu ritus kehidupan dan kematian. Dari semua upacara ritual tersebut dikenal lima upacara yang bersifat besar dan melibatkan banyak orang serta dana yang tidak sedikit.

Suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng) mengenal lima ritual besar, mau tau lima ritual besar suku Dayak di Kalteng tersebut? Untuk menjawab rasa penasaran Anda sebenarnya semua ritual tersebut telah diterbitkan pada artikel sebelumnya karena lima ritual besar Suku Dayak di Kalteng antara lain adalah sebagai berikut:

1. Tiwah

Tiwah merupakan upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak. Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja.

untuk lebih lengkapnya silahkan klik DISINI

CONTOH PERISTIWA QADA DAN QADAR PADA KEHIDUPAN

Qada dan Qadar merupakan suatu ketentuan dari Allah SWT, yang akan terjadi atas kehendak-Nya. Segala sesutu yang terjadi di dunia ini merupakan Qada Dan Qadar dari Allah SWT, 
daun yang gugur merupakan bagian dari Qada dan Qadar, hembusan angin, hujan siang .... malam juga merupakan qada dan qadar. kehidupan , kematian, pernikahan melahirkan ... dan lain-lain 

berikut ini ada beberapa contoh dari peristiwa-peristiwa yang terjadi didunia yang merupakan qada dan qadar beserta gambar dan keterangannya,
untuk lebih jelasnya silahkan KLIK DISINI

Sabtu, 31 Januari 2015

PERANGKAT LUNAK KOMPUTER LENGKAP DENGAN CONTOH DAN GAMBARNYA

PERANGKAT LUNAK KOMPUTER

Perangkat  lunak atau biasa disebut dengan software adalah sesuatu yang sangat vital di dalam sebuah komputer, jika tidak ada perangkat lunak pada sebuah komputer maka komputer tidak dapat menampilkan apapun, karena yang menjalankan sebuah komputer adalah software, 
software yang utama adalah sistem operasi (OS) karena sebagai induk dari software-software pendukung lainnya.
untuk lebih jelas mengenali software-software yang biasa di pasang/di instal pada sebuah komputer berikut dengan gambar dan penjelasannya silahkan klik DISINI

Selasa, 27 Januari 2015

MAKALAH INDAHNYA ASAMA'UL HUSNA



BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
Dalam agama Islam, Asmaa'ul husna (bahasa Arab , asmāʾ allāh al-usnā) adalah nama-nama Allah yang indah dan baik. Asma berarti nama dan husna berarti yang baik atau yang indah, jadi asma'ul husna adalah nama nama milik Allah yang baik lagi indah.
Sejak dulu para ulama telah banyak membahas dan menafsirkan nama-nama ini, karena nama-nama Allah adalah alamat kepada Dzat yang mesti kita ibadahi dengan sebenarnya. Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah kita tidak boleh musyrik dalam mempergunakan atau menyebut nama-nama Allah ta'ala. Selain perbedaaan dalam mengartikan dan menafsirkan suatu nama terdapat pula perbedaan jumlah nama, ada yang menyebut 99, 100, 200, bahkan 1.000 bahkan 4.000 nama, namun menurut mereka, yang terpenting adalah hakikat Dzat Allah SWT yang harus dipahami dan dimengerti oleh orang-orang yang beriman seperti Nabi Muhammad.
Asma'ul husna secara harfiah adalah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Allah.
B.     TUJUAN
Tujuan dibuatnya makalah ini antara lain untuk :
1.      Mengetahui arti Asma’ul husna
2.      Memahami indahnya Asma’ul husna




BAB II
PEMBAHASAN

A.    INDAHNYA ASMA’UL HUSNA
Berbicara tentang keindahan al-Asma-ul husna (nama-nama Allah Ta’ala yang maha indah) berarti membicarakan suatu kemahaindahan yang sempurna dan di atas semua keindahan yang mampu digambarkan oleh akal pikiran manusia.
Betapa tidak, Allah Ta’ala adalah zat maha indah dan sempurna dalam semua nama dan sifat-Nya, yang karena kemahaindahan dan kemahasempurnaan inilah maka tidak ada seorang makhlukpun yang mampu membatasi pujian dan sanjungan yang pantas bagi kemuliaan-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan hal ini dalam sebuah doa beliau yang terkenal:
 Aku tidak mampu menghitung/membatasi pujian/sanjungan terhadap-Mu, Engkau adalah sebagaimana (pujian dan sanjungan) yang Engkau peruntukkan bagi diri-Mu[1].
Maka sebagaimana kesempurnaan sifat-sifat-Nya yang tidak terbatas, demikian pula pujian dan sanjungan bagi-Nya tidak terbatas, karena pujian dan sanjungan itu sesuai dengan zat yang dipuji. Oleh karena itu, semua pujian dan sanjungan yang ditujukan kepada-Nya bagaimanapun banyaknya, panjang lafazhnya dan disampaikan dengan penuh kesungguhan, maka kemuliaan Allah Ta’ala lebih agung (dari pujian dan sanjungan tersebut), kekuasaan-Nya lebih mulia, sifat-sifat kesempurnaan-Nya lebih besar dan banyak, serta karunia dan kebaikan-Nya (kepada makhluk-Nya) lebih luas dan sempurna[2].
Sebagaimana Allah Ta’ala menegaskan dalam al-Qur’an bahwa tidak ada satu makhlukpun di dunia ini yang mampu mambatasi dan menuliskan dengan tuntas semua bentuk keagungan dan keindahan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, bagaimanapun besar dan luasnya makhluk tersebut. Allah berfirman,
 Katakanlah: Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (QS al-Kahfi:109).
Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman,
 Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Luqmaan:27).
Imam Ibnu Katsir berkata, “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala berfirman memberitakan tentang keagungan, kebesaran dan kemuliaan-Nya, serta nama-nama-Nya yang maha indah, sifat-sifat-Nya yang maha tinggi dan kalimat-kalimat-Nya yang maha sempurna, yang tidak mampu diliputi oleh siapapun (dari makhluk-Nya), serta tidak ada seorang pun yang mengetahui hakekat dan mampu membatasi/menghitungnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam … kemudian Ibnu Katsir menyebutkan hadits di atas … Arti ayat ini: Seandainya semua pohon (yang ada di) bumi dijadikan pena dan lautan (di bumi) dijadikan tinta dan ditambahkan lagi tujuh lautan (yang seperti itu) bersamanya, untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan-Nya, serta (kesempurnaan) sifat-sifat-Nya, maka (niscaya) akan hancur pena-pena tersebut dan habis air lautan (tinta) tersebut (sedangkan kalimat-kalimat keagungan dan kemuliaan-Nya tidak akan habis)”[3].
B.     ARTI ‘KEMAHAINDAHAN’ DALAM AL-ASMA-UL HUSNA
Allah Ta’ala berfirman,
 Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan” (QS al-A’raaf:180).
Arti “al-Husna” (maha indah) dalam ayat ini adalah yang kemahaindahannya mencapai puncak kesempurnaan, karena nama-nama tersebut mengandung sifat-sifat kesempurnaan yang tidak ada padanya celaan/kekurangan sedikitpun dari semua sisi[4].
Misalnya: nama Allah Ta’alaal-Hayyu” (Yang Maha Hidup), nama ini mengandung sifat kesempurnaan hidup yang tidak berpermulaan dan tidak akan berakhir. Sifat hidup yang sempurna ini mengandung konsekwensi kesempurnaan sifat-sifat lainnya, seperti al-‘ilmu (maha mengetahui), al-qudrah (maha kuasa/mampu), as-sam’u (maha mendengar) dan al-basharu (maha melihat).
Allah Ta’ala berfirman,
 Dan bertawakallah kepada Allah Yang Maha Hidup (Kekal) dan tidak akan mati” (QS al-Furqaan: 58).
Demikian pula nama Allah Ta’alaal-‘Aliimu” (Yang Maha Mengetahui), nama ini mengandung sifat kesempurnaan ilmu (pengetahuan) yang tidak didahului dengan kebodohan dan tidak akan diliputi kelupaan sedikitpun, sebagaimana firman-Nya:
 Musa berkata: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku di dalam sebuah kitab, Rabbku (Allah Ta’ala) tidak akan salah dan tidak (pula) lupa” (QS Thaahaa: 52).
Pengetahuan-Nya maha luas dan meliputi segala sesuatu secara garis besar maupun terperinci, sebagaimana firman-Nya:
 Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melaimkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS al-An’aam: 59).
Juga nama-Nya “ar-Rahmaan” (Yang Maha Penyayang), nama ini mengandung sifat rahmat (kasih sayang) yang maha luas dan sempurna, sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya[5].[6]

Senin, 26 Januari 2015

PERKEMBANGAN ISLAM DIDUNIA



BAB I
PENDAHULUAN

      A.     Latar Belakang
Pada mulanya Islam disebarkan atas perjuangan Nabi Muhammad SAW di Mekah dan Medinah. Perjuangan menyebarkan agama Islam di Mekah selama kurang lebih 13 tahun. Sejak beliau diangkat menjadi Rasul pada tanggal 17 Ramadhan 611 M sampai beliah hijrah ke Medinah pada tanggal 12 Rabiul Awal 622 M. Sedangkan perjuangan beliau ke Medinah selama 10 tahun, sejak beliau hijrah sampai beliau wafat tanggal 12 Rabiul Awal 632 M.
Selama perjuangan di Mekah, beliau dapat mengubah sifat-sifat masyarakat Jahiliyah menjadi masyarakat yang mengimani keesaan Allah SAW. Perjuangan di Mekah dapat menciptakan masyarakat sejahtera dan beriman kepada Allah Yang Maha Esa.

      B.     Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah yang berjudul “perkembangan islam didunia” ini adalah agar masyarakat luas tahu bahwa agama Islam merupakan satu-satunya agama yang tidak suka kekerasan dan paksaan untuk tidak menganutnya. Seseorang belum bisa dikatakan Islam apabila ia belum mengerjakan perintah Tuhannya dan menjauhi larangan-Nya.

      C.     Rumusan Masalah
Dalam perumusan masalah ini penulis akan membahas tentang perkembangan agama Islam di dunia serta bukti-bukti bahwa negara-negara tersebut masyarakatnya menganut agama Islam.




BAB II
PEMBAHASAN

      A.     Perkembangan Agama Islam Di Berbagai Benua
      1)      Islam di Benua Asia
      a)      Pakistan (Republik Islam Pakistan)
Pakistan berbatasan dengan Iran di barat, Afganistan di barat laut, India di tenggara, Jammu dan Khasmir di timur laut, dan laut arab di selatan. Ibu kota Pakistan adalah Islamabad dan satuan mata uangnya adalah Rupe.
Pakistan merupakan salah satu negara yang mempunyai peranan penting dalam sejarah dan perkembangan Islam, karena Pakistan telah berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan filsafat, serta berhasil melahirkan sejumlah lembaga pengkajian Islam dan intelektual muslim bertaraf internasional. Perguruan tinggi yang telah berdiri di Pakistan yaitu : Universitas Baluchistan, Pertanian Faisalabad, Government College Lahore, dan Universitas Punjab Lahore.

      b)      Islam di Benua Asia Bagian Tenggara
Indonesia merupakan salah satu aset terbesar umat Islam sedunia. Mayoritas masyarakatnya Muslim, taat dan selalu terlibat dalam pembicaraan masyarakat Muslim dunia. Indonesia berada pada posisi yang strategis, bernpenduduk sekitar 250 juta jiwa, berlandaskan Pancasila, mempunyai partai politik Islam, organisasi keislaman, lembaga pendidikan Islam dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, baik formal maupun informal.
Malaysia juga merupakan wilayah yang didominasikan umat Muslim. Masyarakatnya juga aktif dalam kegiatan politikdan sosial dengan membawa semangat keislaman. Kajian-kajian keislaman di kalangan intelektual muslim terus ditingkatkan. Sejak tahun 1956 pendidikan Islam dikenalkan dalam sistem sekolah nasional.
Selain dari 2 negara tersebut Filipina dan Thailand juga merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang mempunyai komunitas muslim yang cukup besar.

      2)      Islam di Benua Eropa
Islam memasuki benua Eropa melalui empat periode :
      1.      Periode kekhalifahan Islam di Spanyol (Andalusia) selama + 8 abad. Kekhalifahan ini berakhir pada tahun 1492 setelah penguasa Kristen memaksa khalifah terakhir dari Dinasti Bani Umayyah II, Abu Abdillah untuk menyerah.
2.      Adanya penyebaran tentara Mongol pada abad ke-13.
3.      Periode ekspansi kekhalifahan Turki Usmani sekitar abad ke-14 dan ke-15 ke wilayah Balkan dan Eropa Tengah.
4.      Periode kaum Imigran Muslim memasuki benua Eropa setelah perang dunia ke-2.
Dibawah ini akan dikemukakan keberadaan kaum muslim di beberapa negara dari benua Eropa.

MAKALAH KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA

KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA  BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia memiliki sejarah yang panjang mengenai kerajaan-ker...