Kamis, 11 Desember 2014

MAKALAH IMAN KEPADA KITA ALLAH



BAB I
PENDAHULUAN 
A.    LATAR BELAKANG
Dalam pembuatan makalah ini, kami  membahas materi dengan judul “Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah”
Karena sebagai mana kita ketauhui semua bahwa, kitab-kitab yang diturun kan oleh Allah SWT wajib kita imani. Karena apa yang sudah diutarakan dalam kitab AL-Qur-an, kitab adalah suatu pedoman bagi kehidupan manusia di dunia dan di akhirat kelak.
             Dan dalam pengambilan judul makalah ini, kami bermaksud mengingatkan kepada pembaca agar menghargai dan memelihara kitab yang telah diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi-nabi sebelumnya. Sehingga pembaca dapat lebih mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari.

B.     TUJUAN
          Ada pun tujuan dalam pembuatan makalah ini yakni, :
  • Memberikan wawasan kepada pembaca.
  • Mengingatkan pula kepada umat muslim agar lebih menjaga kitab-kitab Allah
  • Dan diutamakan untuk memenuhi tugas Pendidikan Agama Islam. 


BAB II
DASAR TEORI 
Iman kepada kitab yang Allah yang di turunkan merupakan salah satu ushul (landasan) iman dan merupakan rukun iman yang KE-3. Iman yang dimaksud adalah pembenaran yang disertai keyakinan bahwa kitab-kitab Allah benar. Kitab-kitab tersebut merupakan kalam Allah ‘Azza wa jalla yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya kepada umat yang turun kepadanya kitab tersebut.
Diturunkanya kitab merupakan di antara bentuk kasih sayang Allah  kepada hambanya karena besarnya kebutuhan hamba terhadap kitab Allah. Akal manusia terbatas, tidak bisa meliputi rincian hal-hal yang dapat memberikan manfaat dan menimbulkan madharat bagi dirinya. Dan beriman kepada kitab-kitab Allah merupakan salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap orang-orang muslim.
  • Iman kepada kitab Allah harus mencakup empat perkara :
Pertama          : Mengimani bahwa turunnya kitab-kitab Allah benar-benar dari sisi Allah    
                          Ta’ala.
Kedua             : Mengimani nama-nama kitab yang kita ketahui namanya seeprti Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salaam, Injil yang diturunkan kepada Nabi  ‘Isa ‘alaihis salaam, dan Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihis salaam. Sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, kita mengimaninya secara global.
Ketiga             : Membenarkan berita-beritanya yang benar, seperti berita mengenai Al Quran, dan berita-berita  lain yang tidak diganti atau diubah dari iktab-kitab terdahulu sebelum Al Quran.
Keempat         : Mengamalkan hukum-hukumnya yang tidak dihapus, serta ridho dan tunduk menerimanya, baik kita mengetahui hikmahnya maupun tidak.  (Syarh Ushuulil Iman)



BAB III
PEMBAHASAN
1.      Iman kitab-kitab Allah SWT,
Rukun iman yang ketiga adalah iman kepada kitab Allah SWT. Arti kata kitab adalah tulisan atau yang ditulis, berasal dari kata “kataba” yang berarti menulis. Dalam bahasa Indonesia kitab diartikan buku. Adapun yang dimaksud kitab di sini adalah kitab suci.
Ada dua jenis kitab suci:
  1. Kitab suci samawi, yakni kitab suci yang bersumber dari wahyu Allah SWT. dan biasa disebut Kitabullah (Kitab Allah SWT.). Ada yang berwujud Kitab dan ada yang berwujud Shahifah atau Shuhuf.
  2. Kitab suci ardhi, yakni kitab suci yang tidak bersumber dari wahyu Allah SWT. melainkan bersumber dari hasil perenungan dan budi daya akal manusia sendiri.
Adapun pengertian Kitabullah adalah kalam atau firman Allah SWT.  yang diwahyukan melalui malaikat Jibril kepada Nabi dan Rasul-Nya yang mengandung perintah dan larangan sebagai pedoman hidup bagi ummat manusia dan jumlah kitabullah ada 144 kitab,dan yang wajib diimani ada 4.
2.      Kitab-kitab yang wajib diimani
    kitab-kitab yang wajib diimani ada empat(4) yaitu :
   1.Kitab Zabur , diturunkan pada Nabi Daud.
   2.Kitab Taurat , diturunkan kepada Nabi Musa.
   3.Kitab Injil ,diturunkan kepada Nabi Isa.
   4.Kitab Al-Qur’an ,diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
3.      Pengertian iman kepada kitab-kitab Allah,
            Yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab Allah SWT. yaitu meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT. telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada paraNabi dan Rasul yang berisi wahyu Allah SWT. berupa perintah dan larangan untuk disampaiakan kepada umat manusia agar diunakan sebagai pedoman hidup di dunia.


4.      Dalil naqli dan aqli terkait dengan iman  kepada kitab-kitab Allah SWT.
  1. a.    Dalil Naqli  :
Al-Qur’an
Artinya:
“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”. (QS. Al-Baqarah:4).
Hadits Nabi SAW.:
 Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, (HR. Muslim). (dikutip dari himpunan hadits Arba’in karya Imam An-Nawawi)
  1. b.    Dalil Aqli    :
Allah SWT Maha ‘Alimun= Tahu bahwa manusia adalah makhluk yang dha’if= lemah. Sedangkan Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Rahman = Pengasih dan Maha Rahim = Penyayang. Atas hal itulah Allah SWT berkehendak memberikan bimbingan kepada manusia agar tetap menjadi makhluk paling mulia di sisi-Nya dengan memberikan pedoman berupa kitab suci lengkap dengan uswah hasanah (contoh tauladan) yang berupa seorang Nabi dan Rasul.

5.      Nama-nama kitab Allah SWT. beserta para Nabi dan Rasul yang menerimanya:
  • Kitab Taurat
Ada yang menyebutnya Thoret atau Thora. Diturunkan kepada  Nabi Musa AS (=Moses) abad ke 15 SM untuk Bani Israil dan berbahasa Ibrani.
Kandungan kitab Taurat:
  1. Perintah mengesakan Allah SWT.
  2. Larangan membuat dan menyembah patung berhala.
  3. Larangan menyebut Nama Allah SWT. Dengan sia-sia.
  4. Perintah mensucikan hari Sabtu.
  5. Perintah menghormati ayah dan ibu.
  6. Larangan membunuh sesama manusia.
  7. Larangan berbuat zina.
  8. Larangan mencuri.
  9. Larangan menjadi saksi palsu.
  10. Larangan mengambil istri orang lain.
  • Kitab Zabur
 Juga ada yang menyebut Mazmur maupun Paska. Diturunkan kepada  Nabi Dawud AS (=David) pada abad ke 10 SM untuk Bani Israil dan berbahasa Qibthi.
Kandungan kitab Zabur:
  1. Do’a
  2. Dzikir
  3. Nasihat
  4. Hikmah
  5. Menyeru kepada ketauhidan
f.   Tidak berisi syari’at.
  • Kitab Injil
 Ada yang menamakan Bibel maupun Alkitab. Diturunkan kepada  Nabi Isa AS= Yesus Kristus pada awal abad ke 1 M untuk Bani Israil dan berbahasa Suryani.         
Kandungan kitab Injil:
  1. Seruan tauhid kepada Allah SWT.
  2. Ajaran hidup zuhud dan menjauhi kerusakan terhadap dunia.
  3. Merevisi sebagian hukum Taurat yang sudah tidak sesuai.
  4. Berita tentang akan datangnya Nabi akhir zaman bernama Ahmad atau Muhammad.
  • Al-Qur’an           
Nama lainnya adalah Adz-Dzikru, Al-Furqon, Al-Bayan, Al-Huda, dsb.
“AL-QUR’AN” adalah WAHYU-WAHYU ALLAH yang diturunkan kepada NABI MUHAMMAD – ROSULULLAH SAW, baik yang disampaikan dengan perantara MALAIKAT JIBRIL, maupun yang diterima langsung melalui ISARAT.[1]
Al-Qur’an Diturunkan kepada  Nabi Muhammad SAW (=Ahmad) pada abad 7 M mulai 6 Agustus 610 M untuk pedoman seluruh manusia dan berbahasa Arab. [1]


Artinya:
“Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui”. (QS. Yusuf: 3)
Dan Rasulullah pula bersabda seperti apa yang di firmankan oleh Allah SWT.
  Artinya: “atas engkau membaca al-Quran adalah cahaya bagimu dibumi dan     
                 simpananmu dilangit.”(HR. Ibn Majah)
  • Menjadikan al-Quran sebagai sumber hukum dan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak problem kehidupan yang tidak dapat diatasi oleh manusia.sepertinya:
- Berbagai macam jenis penyakit timbul tanpa diketahui cara pengobatannya,
- terjadinya bencana yang tidak disangka-sangka,
- terjadinya gejolak sosial,dsb.
Semuanya itu merupakan dampak sikap sikap manusia yang meninggalkan
al-Quran. Padahal Rasulullah saw. Telah berpesan dalam sabdanya yang berbunyi:
Artinya: “kutinggalkan untukmu dua perkara (pusaka), kalian tidak akan tersesat
selama berpegang kepada keduanya, yaitu (al-Quran) dan sunnnah rasulNya.”(al-Hakim)
6.      Shuhuf-shuhuf yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul.
Disamping menurunkan kitab suci, Allah SWT. juga telah menurunkan petunjuk-Nya dalam bentuk lembaran-lembaran yang disebut Shahifah atau Shuhuf.
      Artinya:
      “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa”.   (QS. Al-A’la: 18-19)
       Shuhuf adalah wahyu yang diturunkan dari Allah SWT. kepada para utusan-Nya dalam bentuk lembaran (shahifah). Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abu Dzar R.A., bahwa shuhuf itu hanya bersisi tentang AMTSAL (perumpamaan).
Perbedaan Antara Kitab Suci Dan Suhuf
    Kitab suci : Adalah kumpulan firman allah yang di turunkan kepada para nabi yang
telah dikodifikasikan dalam satu kitab suci, sebagai pegangan dan petunjuk bagi umatnya.
    Suhuf      : Adalah lampiran atau lembaran-lembaran firman allah tentang hukum
     hukum yang di disampaikan kepada nabi-nabi tertentu untuk di teruskan
 kepada umatnya, seperti Suhuf Nabi Ibrahim dan Suhuf Nabi Musa[2]
      Diantara para Rasul yang telah menerima shuhuf dari Allah SWT. adalah:
      a. Nabi Adam AS.      :           10 shuhuf.
      b. Nabi Syits AS.        :           50 shuhuf.
      c. Nabi Idris AS.         :           30 shuhuf.
      d. Nabi Musa AS.       :           10 shuhuf.
      e. Nabi Ibrahim AS.    :           10 shuhuf.

7.       Isi pokok dari kitab-kitab Allah
Pada dasarnya kitab-kitab suci memuat tentang beberapa hal, yakni:
  1. Hukum I’tiqodiyah; hukum tentang keyakinan, seperti iman kepada Allah SWT.,
Malaikat, Kitab, Rasul, Hari akhir dan Taqdir.
  1. Hukum Khuluqiyah; hukum tentang akhlaq, yakni kewajiban para mukallaf untuk memperhias diri dengan perilaku utama (akhlaqul karimah) dan menghindarkan diri dari perilaku tercela (akhlaqul madzmumah).
  2. Hukum ‘Amaliyah; hukum tentang amal perbuatan, yakni segala perkataan, perbuatan dan tindakan manusia.
8.       Fungsi kitab suci bagi kehidupan sehari-hari:
  1. Menenteramkan hati.
  2. Mempertebal keyakinan.
  3. Menambah ilmu pengetehuan.
  4. Mengetahui riwayat (sejarah) umat masa lampau.
  5. Memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
  6. Menanamkan sikap toleransi terhadap pemeluk agama lain.
9.      Fungsi beriman kepada kitab-kitab Allah SWT diantaranya, yaitu :
  1. Mempertebal keimanan kepada Allah SWT. Karena banyak hal-hal kehidupan manusia yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan dan akal manusia, maka kitab-kitab Allah manusia menjawab permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan manusia, baik yang tampak maupun yang gaib.
  1. Memperkuat keyakinan seseorang terhadap tugas Nabi Muhammad saw. Karena dengan meyakini kitab-kitab Allah, maka akan percaya terhadap kebenaran Al-Qur’an dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
  1. Menambah ilmu pengetahuan. Karena dalam kitab-kitab Allah, disamping berisi tentang perintah dan larangan Allah, juga menjelaskan tentang pokok-pokok ilmu pengetahuan untuk mendorong manusia mengembangkan dan memperluas wawasan sesuai dengan perkembangan zaman.
  1. Menanamkan sikap toleransi terhadap pengikut agama lain. Karena dengan beriman kepada kitab-kitab Allah, maka umat islam akan selalu menghormati dan menghargai orang lain.hal ini sesuai apa yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis.
  1. Mengetahui perhatian Allah terhadap para hambanya dengan menurunkan kitab kepada setiap kaum sebagai petunjuk bagi mereka.
  1. Mengetahui hikmah Allah Ta’ala mengenai syariat-syariat-Nya, di mana Allah telah menurunkan syariat untuk setiap kaum yang sesuai dengan kondisi mereka, sebagaimana yang Allah firmankan.
  1. Mensyukuri nikmat Allah berupa diturunkanya kitab-kitab(sebagai pedoman dan petunjuk, eyd).


 BAB IV
PENUTUP
  
a.      Kesimpulan
Tidak ragu lagi bahwa, beriman dengan sebagian kitab dan kufur dengan sebagian yang lain sama saja dengan kufur terhadap semuanya.  Karena keimanan harus mencakup dengan seluruh kitab samawi dan seluruh para rasul, tidak membedakan dan menyelisihi  sebagiannya. Allah Ta’ala mencela orang-orang yang membedakan dan menyelisihi kitab, sebagaimana firman-Nya,
b.       Saran
Dalam memahami suatu materi, pelajarilah materi dasarnya terlebih dahulu. Karena itu sangatlah membantu dalam mempelajari materi yang lebih tinggi. Materi dasar dapat kita simpulakan sebagai kunci dalam membuka suatu pintu gerbang. Jadi apa gunanya bila kita tak mempunyai kunci tersebut. Akan kah pintu atau gerbing itu bisa terbuka.
Dan makalah ini merupakan sebagian dasar kunci kecil untuk mengaplikasikanya kedalam kehidupan, karena sebagaiman di jelaskan kitab adaah pedoman hidup manusia dan buku adalah kunci kehidupan manusia.

KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYRAKAT SUKU PEDALAMAN DI INDONESIA



KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYRAKAT SUKU PEDALAMAN
DI INDONESIA
Indonesia adalah Negara dengan jumlah suku terbanyak, tercatat 1.128 macam suku ada di Indonesia dengan jumlah terbanyak di pegang oleh suku jawa yang memang memenuhi separuh negeri ini.
Namun perlu anda ketahui jika Indonesia masih memiliki beberapa suku yang jauh dari peradaban modern yang serba instan, dimana mereka betul-betul hidup berdampingan dengan alam.

Berikut daftar 10 Suku Paling Terasing di Indonesia ...
1. Suku Anak Dalam atau Kubu, Jambi

  Suku anak dalam atau Orang Kubu atau di sebut juga Orang Rimbo adalah salah satu suku yang hidup di sumatera, tepatnya di provinsi Jambi, Suku ini hidup di dalam hutan-hutan, hidup dalam kelompok-kelompok, mereka kerap berpindah-pindah, jika ada salah satu anggota keluarga yang meninggal maka mereka pun akan berpindah lagi, mereka hidup dari berburu, ada juga yang bercocok tanam dan menjual hasil alam ke masyarakat biasa, suku kubu masih menganut kepercayaan animisme dimana mereka masih menyebah roh-roh atau dewa-dewa. Tapi beberapa dari mereka sudah ada yang menikah dan hidup dalam lingkungan masyakart mayoritas di provinsi Jambi.
2. Suku Dani, Pegunungan Tengah, Papua

Suku Dani adalah sebuah suku yang mendiami satu wilayah di Lembah Baliem yang dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai petani yang terampil dan telah menggunakan alat/perkakas yang pada awal mula ditemukan diketahui telah mengenal teknologi penggunaan kapak batu, pisau yang dibuat dari tulang binatang, bambu dan juga tombak yang dibuat menggunakan kayu galian yang terkenal sangat kuat dan berat. Suku Dani masih banyak mengenakan ''koteka'' (penutup kemaluan pria) yang terbuat dari kunden/labu kuning dan para wanita menggunakan pakaian wah berasal dari rumput/serat dan tinggal di “honai-honai” (gubuk yang beratapkan jerami/ilalang). Upacara-upacara besar dan keagamaan, perang suku pun masih sering terjadi di sana meskipun tidak sebesar sebelumnya.
3. Suku Kenekes atau Suku Baduy, Kab. Lebak, Banten

Suku Kenekes atau Suku Baduy merupakan suku dari kabupaten Lebak provinsi Banten, mereka menjauhkan diri dari dunia luar yang serba modern, suku baduy terbagi pula menjadi 2 yakni suku baduy luar dan suku baduy dalam, dari keduanya ini suku baduy luar sedikit lebih keras dalam menjaga adat istiadat mereka, mereka sama sekali tidak menggunakan apa yang di ciptakan oleh dunia moderm, seperti tidak boleh naik motor atau mobil, di perkirakan jumlah populasi suku baduy baik luar maupun dalam mencapai 8000 orang.
4. Suku Kajang, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan

Suku Kajang hidup di Kabupaten Bulukumba, sekitar 200 km dari kota Makassar. Suku Kajang mudah di kenali, karena mereka memakai pakaian serba hitam, sorban hitam dan tanpa menggunakan alas kaki meski di desa maupun ketika ke kota. Suku ini sangat memegang teguh adat istiadatnya, mereka tidak terlalu tertarik dengan dunia luar, mereka masih menjalani hidup sebagaimana nenek moyang mereka menjalani hidup di jaman dulu kala. Dan perlu anda ketahui di Kab. Bulukumba terdapat sebuah hutan keramat bernama Hutan Karanjang, warga suku Kajang tidak di bolehkan mengambil hasil alam dari hutan tersebut, sekalipun mereka hanya mengambil ranting kayu untuk kayu bakar, jika kedapatan mereka akan di hukum dengan hukum adat.
5. Suku Togotil, Halmahera 

Suku Togutil atau dikenal juga sebagai Suku Tobelo Dalam adalah kelompok/komunitas etnis yang hidup di hutan-hutan secara nomaden di sekitar hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli yang termasuk dalam Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Yang perlu diingat, Orang Togutil sendiri tak ingin disebut "Togutil" karena Togutil bermakna konotatif yang artinya "terbelakang".
Kehidupan mereka masih sangat tergantung pada keberadaan hutan-hutan asli. Mereka bermukim secara berkelompok di sekitar sungai. Komunitas Togutil yang bermukim di sekitar Sungai Dodaga sekitar 42 rumah tangga. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu, bambu dan beratap daun palem sejenis Livistonia sp. Umumnya rumah mereka tidak berdinding dan berlantai papan panggung.
6. Suku Bauzi atau Orang Baudi, Papua

 Suku Bauzi atau orang Baudi merupakan satu dari sekitar 260-an suku asli yang kini mendiami Tanah Papua. Oleh lembaga misi dan bahasa Amerika Serikat bernama Summer Institute of Linguistics (SIL), suku ini dimasukan dalam daftar 14 suku paling terasing. Badan Pusat Statistik (BPS) Papua pun tak ketinggalan memasukan suku Bauzi kedalam daftar 20-an suku terasing yang telah teridentifikasi. Bagaimana tidak, luasnya hutan belantara, pegunungan, lembah, rawa hingga sungai-sungai besar yang berkelok-kelok di sekitar kawasan Mamberamo telah membuat suku ini nyaris tak bersentuhan langsung dengan peradaban modern. Kehidupan keseharian suku ini masih dijalani secara tradisonal.



7. Suku Sakai, Kab Siak, Riau

Suku Sakai adalah komunitas asli/pedalaman yang hidup di daratan Riau. Mereka selama ini sering dicirikan sebagai kelompok terasing yang hidup berpindah-pindah di hutan.  Orang-orang Sakai dulunya adalah penduduk Negeri Pagaruyung yang melakukan migrasi ke kawasan rimba belantara di sebelah timur negeri tersebut. Waktu itu Negeri Pagaruyung sangat padat penduduknya. Untuk mengurangi kepadatan penduduk tersebut, sang raja yang berkuasa kemudian mengutus sekitar 190 orang kepercayaannya untuk menjajaki kemungkinan kawasan hutan di sebelah timur Pagarruyung itu sebagai tempat pemukiman baru. Setelah menyisir kawasan hutan, rombongan tersebut akhirnya sampai di tepi Sungai Mandau. Karena Sungai Mandau dianggap dapat menjadi sumber kehidupan di wilayah tersebut, maka mereka menyimpulkan bahwa kawasan sekitar sungai itu layak dijadikan sebagai pemukiman baru. Keturunan mereka inilah yang kemudian disebut sebagai orang-orang Sakai.
8. Suku Korowai, Papua


Suku Korowai adalah suku yang baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu di pedalaman Papua, Indonesia dan berpopulasi sekitar 3000 orang. Suku terasing ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon yang disebut Rumah Tinggi. Beberapa rumah mereka bahkan bisa mencapai ketinggian sampai 50 meter dari permukaan tanah. Suku Korowai adalah salah satu suku di daratan Papua yang tidak menggunakan koteka.  Bahkan hingga tahun 1970, mereka tidak mengetahui keberadaan setiap orang selain kelompok mereka.
9. Suku Laut, Kep. Riau

Suku Laut atau sering juga disebut Orang Laut adalah suku bangsa yang menghuni Kepulauan Riau, Indonesia. Secara lebih luas istilah Orang Laut mencakup "berbagai suku dan kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga, Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, dan pesisir dan pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya bagian selatan."
Sebutan lain untuk Orang Laut adalah Orang Selat. Orang Laut kadang-kadang dirancukan dengan suku bangsa maritim lainnya, Orang Lanun.
Secara historis, Orang Laut dulunya adalah perompak, namun berperan penting dalam Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Johor. Mereka menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, memandu para pedagang ke pelabuhan Kerajaan-kerajaan tersebut, dan mempertahankan hegemoni mereka di daerah tersebut.
10. Suku Polohi, Gorontalo

Di pedalaman hutan Boliyohato, Gorontalo hidup beberapa kelompok masyarakat nomaden yang lebih di kenal dengan sebutan Suku Polahi. Suku Polahi ini bahkan jauh lebih tertinggal daripada suku suku yang masih dianggap primitive lainnya di Indonesia. Rata rata suku primitive yang lain setidaknya sudah mulai hidup menetap dan mulai terbuka dengan kehidupan luar. Suku Polahi ini memiliki pola hidup berpindah pindah (Nomaden) dari satu hutan ke hutan yang lain. Mereka juga belum mengenal pakaian, agama bahkan mereka juga tak mengenal hari.












MAKALAH KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA

KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA  BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia memiliki sejarah yang panjang mengenai kerajaan-ker...